BALI — Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII 2026 mendorong penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah sebagai satu ekosistem pendidikan yang saling terhubung. Kegiatan ini berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center pada 2–4 Oktober 2026, dengan pembahasan yang mencakup peningkatan kualitas guru, penguatan pembelajaran, serta respons pendidikan terhadap perkembangan teknologi digital.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan bahwa kampus dan sekolah tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Perguruan tinggi, terutama Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), dipandang memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan kapasitas guru dan kualitas proses belajar. Pada saat yang sama, sekolah menjadi ruang penting untuk memahami kebutuhan pendidikan secara langsung dan menguji penerapan berbagai inovasi pembelajaran.
Pembahasan di KONASPI XII juga menempatkan penguasaan sains dan teknologi sebagai bagian dari upaya menyiapkan talenta unggul. Koding dan kecerdasan artifisial disebut dalam konteks pengembangan kemampuan yang relevan dengan perubahan teknologi. Namun, hal tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari arah pembahasan dan pengembangan talenta, bukan sebagai pernyataan bahwa seluruh kebijakan koding dan kecerdasan artifisial telah berlaku seragam di perguruan tinggi.
Kolaborasi kampus dan sekolah menjadi kebutuhan
Perkembangan teknologi digital mengubah cara pengetahuan diproduksi, disebarkan, dan digunakan. Sekolah membutuhkan dukungan untuk memperkuat pembelajaran serta meningkatkan literasi digital, sementara perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik, keahlian, dan kapasitas riset yang dapat membantu menjawab kebutuhan tersebut.
Dalam kerangka kolaborasi kampus dan sekolah era digital, hubungan kedua pihak tidak terbatas pada kegiatan kunjungan atau pelatihan sesaat. Kerja sama dapat dikembangkan melalui riset terapan, pendampingan guru, pengembangan perangkat pembelajaran, pemetaan masalah pendidikan, dan evaluasi terhadap solusi yang diterapkan di sekolah.
Pendekatan tersebut memungkinkan kampus memahami persoalan pendidikan secara lebih kontekstual. Di sisi lain, sekolah dapat memperoleh akses terhadap gagasan, metode, dan hasil penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran. Kolaborasi yang berkelanjutan juga dapat membantu mengurangi jarak antara pengetahuan akademik dan praktik pendidikan sehari-hari.
Peran LPTK dalam peningkatan kualitas guru
LPTK menjadi salah satu unsur penting dalam ekosistem yang dibahas pada KONASPI XII. Perannya tidak hanya berkaitan dengan pendidikan calon guru, tetapi juga dengan penguatan kompetensi pendidik yang sudah berada di sekolah. Perubahan teknologi menuntut guru untuk terus memperbarui pengetahuan dan menyesuaikan strategi pembelajaran.
Penguatan tersebut dapat mencakup pemahaman terhadap pemanfaatan teknologi, kemampuan memilih sumber belajar digital, serta kecakapan menilai informasi secara kritis. Dalam konteks ini, teknologi bukan pengganti peran guru. Teknologi perlu ditempatkan sebagai alat yang membantu guru merancang pembelajaran, memberikan umpan balik, dan mengembangkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kampus juga dapat membantu sekolah membangun budaya evaluasi. Setiap program atau perangkat digital yang digunakan dalam pembelajaran perlu dilihat berdasarkan tujuan, manfaat, keamanan, aksesibilitas, dan kesesuaiannya dengan kondisi sekolah. Dengan demikian, inovasi pendidikan tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi berhubungan langsung dengan peningkatan kualitas belajar.
Peluang kontribusi mahasiswa ilmu komputer dan bisnis
Isu yang dibahas dalam KONASPI XII memiliki relevansi bagi mahasiswa ilmu komputer dan bisnis. Mereka dapat mengambil bagian dalam ekosistem pendidikan melalui kegiatan yang berbasis keahlian sekaligus kebutuhan nyata di lapangan.
- Riset terapan. Mahasiswa dapat membantu mengidentifikasi persoalan sekolah, seperti kebutuhan pengelolaan data, pemanfaatan sumber belajar digital, atau pengembangan metode pembelajaran berbasis teknologi.
- Pengembangan perangkat pembelajaran. Keahlian pemrograman dan desain produk digital dapat diarahkan untuk membuat alat bantu belajar yang sederhana, mudah digunakan, dan sesuai dengan konteks pengguna.
- Pendampingan literasi digital. Mahasiswa dapat terlibat dalam kegiatan yang membantu guru, peserta didik, dan masyarakat memahami keamanan digital, evaluasi informasi, serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
- Pemecahan masalah berbasis kebutuhan. Mahasiswa dapat belajar menerjemahkan persoalan pendidikan menjadi solusi yang terukur, bukan sekadar membuat aplikasi tanpa memahami kebutuhan sekolah.
- Penguatan keterampilan bisnis. Mahasiswa bidang bisnis dapat mendukung perencanaan program, pengelolaan sumber daya, pengukuran dampak, dan keberlanjutan kerja sama antara kampus dan sekolah.
Kontribusi tersebut tidak berarti mahasiswa harus mengambil alih peran guru atau pengelola sekolah. Posisi mahasiswa lebih tepat dipahami sebagai mitra pembelajaran dan pengembang solusi yang bekerja bersama pendidik serta pemangku kepentingan pendidikan.
Dari inovasi teknologi menuju ekosistem pendidikan
Salah satu tantangan dalam transformasi pendidikan adalah memastikan agar inovasi benar-benar menjawab kebutuhan. Perangkat digital yang canggih belum tentu efektif apabila tidak didukung kesiapan pengguna, infrastruktur, pendampingan, dan evaluasi. Karena itu, kolaborasi kampus dan sekolah perlu dibangun dengan tujuan yang jelas serta pembagian peran yang dapat dipahami bersama.
Kampus dapat menyediakan dukungan akademik dan teknis, sedangkan sekolah memberikan informasi mengenai kondisi pembelajaran, karakteristik peserta didik, serta tantangan yang dihadapi guru. Proses ini perlu berjalan secara dialogis. Riset dan solusi yang dikembangkan sebaiknya tidak hanya berangkat dari asumsi kampus, tetapi juga dari pengalaman sekolah.
Pembahasan tentang koding dan kecerdasan artifisial juga memerlukan pendekatan yang bertanggung jawab. Penguasaan teknologi perlu disertai kemampuan berpikir kritis, pemahaman etika, kesadaran terhadap keamanan data, dan kemampuan menilai dampak penggunaan teknologi. Talenta digital yang dibutuhkan bukan hanya mampu menggunakan alat, melainkan juga dapat memahami tujuan dan konsekuensi penggunaannya.
Implikasi bagi pendidikan tinggi
Bagi perguruan tinggi, arah pembahasan KONASPI XII memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap pendidikan nasional dapat dilakukan melalui lebih dari satu jalur. Kampus tidak hanya berperan dalam mencetak guru melalui LPTK, tetapi juga dapat menjadi mitra riset, pusat inovasi, dan penghubung berbagai keahlian untuk memecahkan masalah pendidikan.
Hal ini membuka peluang bagi program studi ilmu komputer, bisnis, pendidikan, dan bidang lain untuk mengembangkan kerja sama lintas disiplin. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman menerapkan ilmu dalam persoalan nyata, sementara sekolah mendapat dukungan untuk memperkuat kapasitasnya. Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membantu membentuk talenta yang memahami teknologi sekaligus memiliki integritas dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
KONASPI XII 2026 menempatkan hubungan kampus dan sekolah sebagai bagian penting dari upaya menghadapi transformasi pendidikan. Penguatan sains, teknologi, koding, dan kecerdasan artifisial perlu berjalan bersama peningkatan kualitas guru, pembelajaran yang relevan, dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Bagi mahasiswa ilmu komputer dan bisnis, pesan tersebut memperluas ruang kontribusi. Mereka dapat terlibat dalam riset, pengembangan solusi, literasi digital, serta pendampingan teknologi dengan tetap bekerja berdasarkan kebutuhan sekolah. Kolaborasi yang konsisten dan terukur menjadi landasan agar ekosistem pendidikan mampu menyiapkan talenta digital yang cerdas, berintegritas, dan siap menghadapi dunia global.








Leave a Reply