Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menekankan bahwa penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan harus tetap menempatkan guru dan pengajar sebagai pembentuk kemampuan berpikir peserta didik. AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi tidak seharusnya menggantikan aktivitas kognitif yang perlu dilakukan siswa dan mahasiswa.
Penekanan tersebut disampaikan dalam Konvensi Tahunan ke-9 Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia yang berlangsung pada 1 Oktober 2026. Pokok pernyataan itu diberitakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 5 Oktober 2026.
Dalam forum tersebut, kementerian memaparkan data Consumer Insights 2026 yang menyebutkan bahwa 61% responden di Indonesia menggunakan AI dalam pendidikan. Angka ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman belajar bagi banyak orang. Namun, peningkatan penggunaan AI juga perlu diikuti pemahaman tentang cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Peran pengajar tetap penting di tengah penggunaan AI
Menurut Stella, kehadiran AI tidak menghapus kebutuhan terhadap guru, dosen, maupun pengajar. Peran mereka tetap penting untuk membantu peserta didik membangun cara berpikir, memahami konteks, menilai informasi, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan yang dibuat.
AI dapat menghasilkan jawaban, merangkum bacaan, atau membantu menyusun gagasan dalam waktu singkat. Meski demikian, hasil yang diberikan teknologi tetap perlu diperiksa dan dipahami. Peserta didik perlu mengetahui bagaimana sebuah jawaban diperoleh, apakah informasi yang digunakan relevan, serta apakah kesimpulannya sesuai dengan persoalan yang sedang dipelajari.
Dengan pendekatan tersebut, pengajar tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi. Mereka juga berperan merancang kegiatan belajar yang mendorong siswa dan mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan, menguji informasi, serta menjelaskan alasan di balik suatu keputusan. Proses ini menjadi semakin penting ketika teknologi mampu menghasilkan keluaran yang tampak meyakinkan.
Mengenal risiko cognitive offloading
Stella memperkenalkan risiko cognitive offloading, yaitu kondisi ketika sebagian proses berpikir dialihkan kepada alat atau teknologi. Dalam pembelajaran, risiko ini dapat muncul apabila peserta didik terlalu cepat menyerahkan tugas membaca, menulis, menganalisis, atau menyusun jawaban kepada AI.
Penggunaan teknologi secara berlebihan dapat membuat seseorang menerima hasil tanpa melalui proses memahami masalah. Padahal, kegiatan seperti membaca secara mendalam, membandingkan informasi, dan menyusun argumen merupakan bagian dari pembentukan kemampuan akademik.
Risiko tersebut bukan berarti AI harus dijauhkan dari lingkungan pendidikan. Tantangannya adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat proses belajar, bukan untuk menghilangkan proses tersebut. Peserta didik tetap perlu terlibat secara aktif dalam setiap tahapan penting pembelajaran.
AI sebagai alat pendukung proses belajar
Dalam konteks AI dalam pendidikan Indonesia, pemanfaatan teknologi perlu dirancang dengan tujuan yang jelas. AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuka sudut pandang baru, memberikan umpan balik awal, atau membantu peserta didik mengembangkan pertanyaan. Namun, hasil dari teknologi itu perlu diperlakukan sebagai bahan yang harus ditelaah, bukan sebagai jawaban akhir.
Beberapa aktivitas yang perlu tetap dilakukan oleh siswa dan mahasiswa meliputi:
- Membaca: memahami materi dan konteks persoalan secara langsung, bukan hanya mengandalkan ringkasan yang dibuat teknologi.
- Menulis: menyusun gagasan dengan bahasa sendiri agar pemahaman dan kemampuan menyampaikan argumen tetap berkembang.
- Membandingkan informasi: melihat perbedaan antara beberapa penjelasan sebelum menentukan kesimpulan.
- Menganalisis: mengurai persoalan, mengenali hubungan sebab-akibat, dan menilai pilihan yang tersedia.
- Mengevaluasi hasil: memeriksa ketepatan, relevansi, serta keterbatasan jawaban yang dihasilkan AI.
- Menjelaskan alasan: menyampaikan dasar pemikiran di balik keputusan atau kesimpulan yang dibuat.
Rangkaian kegiatan itu membantu menjaga agar peserta didik tidak sekadar menjadi pengguna keluaran AI. Mereka tetap menjadi pihak yang memahami persoalan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaan.
Relevansi bagi mahasiswa ilmu komputer dan bisnis
Pesan tentang berpikir kritis memiliki relevansi khusus bagi mahasiswa ilmu komputer dan bisnis. Kedua bidang tersebut berhubungan erat dengan perkembangan teknologi, pengolahan informasi, pengambilan keputusan, dan perubahan kebutuhan dunia kerja.
Mahasiswa ilmu komputer tidak hanya perlu memahami cara membangun atau menggunakan sistem berbasis AI. Mereka juga perlu mempertimbangkan bagaimana teknologi bekerja, apa keterbatasannya, serta dampaknya bagi pengguna dan masyarakat. Pemahaman teknis yang tidak disertai kemampuan mengevaluasi dampak dapat menghasilkan solusi yang kurang sesuai dengan kebutuhan nyata.
Sementara itu, mahasiswa bisnis perlu mampu menilai informasi, membaca perubahan, dan membuat keputusan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. AI dapat membantu mengolah data atau mengembangkan alternatif, tetapi pertimbangan manusia tetap diperlukan untuk memahami konteks organisasi, risiko, dan dampak keputusan terhadap berbagai pihak.
Karena itu, literasi AI tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan aplikasi. Literasi tersebut juga mencakup kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, memeriksa hasil, mengenali keterbatasan teknologi, serta memahami konsekuensi dari penggunaannya.
Membangun kebiasaan belajar yang tetap aktif
Penekanan Wamendiktisaintek menunjukkan bahwa lembaga pendidikan perlu memikirkan kembali desain kegiatan belajar di tengah meluasnya penggunaan AI. Tugas dan penilaian dapat diarahkan agar peserta didik tidak hanya menyerahkan produk akhir, tetapi juga menunjukkan proses yang mereka lalui.
Dalam praktiknya, pengajar dapat meminta siswa atau mahasiswa menjelaskan langkah analisis, membandingkan beberapa informasi, menyampaikan alasan pemilihan suatu pendekatan, atau merefleksikan bagaimana AI digunakan dalam tugas. Dengan demikian, perhatian tidak berhenti pada hasil akhir, tetapi juga mencakup pemahaman dan proses berpikir.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan bahwa AI sebaiknya menjadi pendukung pembelajaran. Teknologi dapat membantu memperluas akses terhadap informasi dan memberi bantuan pada tahap tertentu, sementara pengajar tetap memastikan tujuan pendidikan tercapai.
Penggunaan AI dalam pendidikan Indonesia pada akhirnya memerlukan keseimbangan. Teknologi menawarkan kemudahan, tetapi pendidikan tetap bertujuan membentuk manusia yang mampu memahami, menilai, dan bertindak secara bertanggung jawab. Peran guru dan pengajar, bersama kemampuan berpikir kritis peserta didik, menjadi unsur penting agar kemajuan teknologi tidak mengurangi kedalaman proses belajar.








Leave a Reply